16 tahun sudah REFORMASI,
Hingga hari ini tak ada perubahan yang TEREALISASI,
Hal ini terus terjadi selama Islam bukan menjadi VISI,
Mahasiswa kini menjadi alat para POLITISI,
yang disiapkan menjadi penjaga DEMOKRASI,
Mahasiswa kini tak punya AMBISI,
mereka lebih banyak hadir dalam acara BASI,
yang hanya terjerumus pada HUMORISASI,
memperdebatkan masalah tanpa SOLUSI,
Kapitalisme penghancur GENERASI,
generasi muda terkhusus Mahasiswa banyak terjerat Narkoba dan Prostitusi,
Bila mahasiswa yang mempunyai peranan sebagai Agent of Change telah TERINFEKSI,
bagaimana mungkin perubahan bisa Terealisasi??
#SaatnyaRevolusi [Ideologi Islam]
Monday, May 12, 2014
Thursday, May 8, 2014
Cendekiawan Asing Berbicara Jujur Tentang Hizbut Tahrir
Situs “New Eurasia” mempublikasikan sebuah artikel yang ditulis oleh seorang cendekiawan bernama Bruno De Cordier dari the University of Ghent di Belgia pada tanggal 16/3/2011 dengan judul: “Explaining the Persistence of Hizb Ut-Tahrir, Menjelaskan Kegigihan Hizbut Tahrir”.
Bruno memulai artikelnya dengan sebuah catatan hasil pengamatannya terhadap Hizbut Tahrir, di mana ia mengatakan bahwa Hizbut Tahrir sebagai kelompok fundamentalis yang mungkin paling banyak dilarang secara resmi di kawasan Asia Tengah dan di tempat-tempat lain. Namun, meskipun Hizbut Tahrir mendapatkan tekanan dan bahkan tindakan repsesif di setiap tempat, Hizbut Tahrir masih aktif melakukan berbagai aktivitas dan kegiatan besar.
Dalam hal ini, Bruno sangat yakin bahwa rahasia kegigihan Hizbut Tahrir dalam beraktivitas ada pada akidah (ideologi) yang diyakininya. Hizbut Tahrir berusaha menciptakan kemarahan yang sesungguhnya, serta kemauan yang tinggi pada diri umat. Jelasnya, Hizbut Tahrir mencerminkan sebuah lembaga dan sistem alternatif untuk sistem globalisasi.
Ketika menggambarkan tentang Hizbut Tahrir, Bruno mengatakan bahwa Hizbut Tahrir merupakan gerakan yang sudah sering dibicarakan. Namun untuk memberitakan serta membicarakan tentang Hizbut Tahrir dan Khilafah yang akan didirikannya masih banyak pihak yang malu dan kurang terbuka. Ia menambahkan bahwa ada kesulitan dalam menentukan jumlah yang tepat dan akurat terkait anggota Hizbut Tahrir di dunia, atau sejauh mana penyebarannya di negeri-negeri Islam, khususnya di negara-negara seperti Uzbekistan, hingga saat ini di Libya. Hanya saja ia mengakui bahwa ada penerimaan yang luar biasa terhadap ide-ide Hizbut Tahrir. Bahkan Hizbut Tahrir mampu dan tetap teguh meskipun berulang kali menghadapi berbagai tekanan dan penindasan.
Bruno kembali mengatakan tentang alasan hingga sikap Hizbut Tahrir yang berusaha menciptakan kemarahan yang sesungguhnya, serta kemauan yang tinggi pada diri umat, bahwa apa yang dilakukan Hizbut Tahrir ini tidak lain adalah jawaban-jawaban yang sesungguhnya atas berbagai masalah ekonomi, politik dan sosial yang ada di dunia. Bahkan ia menilai solusi yang ditawarkan Hizbut Tahrir ini sebagai solusi terbaik dari solusi terbaik yang ditawarkan oleh organisasi hak asasi manusia sekuler.
Dalam hal ini, Bruno mengapresiasi buku “The Emerging World Order and The Islamic Khilafah State, Munculnya Tatanan Dunia dan Negara Khilafah Islam” yang ditulis oleh salah seorang aktivis Hizbut Tahrir di situs “khilafah.com”. Di mana, ia mengatakan bahwa buku tersebut dalam setiap bahasannya selalu diperkuat dengan kutipan ayat-ayat dari al-Qur’an dan al-Hadits, serta ucapan para filsuf Barat, di samping berbagai data statistik.
Penulis buku itu fokus pada pembentukan geostrategis untuk daerah geografis kaum Muslim dan pembagiannya; bahwa sumber daya alam, berbagai potensi ekonomi, industri, kekuatan militer, faktor penduduk (demografis) dan ideologi akan membentuk kekuatan besar dalam “new world order, tatanan dunia baru”. Di mana sesuai pemahaman Hizbut Tahrir bahwa kekuatan besar itulah yang akan menghentikan dan mengakhiri hegemoni Barat yang sudah lama merusak negeri-negeri kaum Muslim.
Sementara kendala utama yang mencegah penggunaan potensi-potensi tersebut, sebagaimana yang terdapat dalam buku tersebut adalah terpecahnya kaum Muslim hingga menjadi 56 negara kecil. Dan kondisi inilah yang menyebabkan keberadaan penjajahan, pendudukan, perpecahan, dan impor ide-ide sekuler seperti nasionalisme, sosialisme dan kebebasan. Sedangkan para penguasa di negara-negara ini adalah para penjahat, karena mereka hanya melaksanakan kebijakan untuk melayani kepentingan Barat saja.
Kemudian Bruno mengatakan bahwa Khalifah dalam pandangan Hizbut Tahrir harus dipilih rakyat; Khalifah adalah pemimpin di dunia yang akan menerapkan Islam; Khalifah adalah manusia biasa yang bisa saja berbuat salah; dan Khalifah dalam pemahaman Hizbut Tahrir yang berbeda dengan pemahaman banyak orang adalah bahwa Khalifah itu bukan Imam Mahdi.
Selanjutnya, Bruno mengakui bahwa berdirinya institusi besar yang membentang dari Rabat hingga Mindanao-kota terbesar di Filipina-ini merupakan sesuatu yang realistis. Justru ia mempertanyakan dan menolak klaim sebagian orang yang mengatakan bahwa “ideologi Hizbut Tahrir ini terpisah dari realitas”.
Dalam diagnosisnya terkait apa yang terjadi di negara-negara Arab, ia mengatakan tentang adanya kegagalan yang mendalam dari rezim-rezim yang berpengaruh besar dalam dunia Islam, di mana hal ini berbeda dengan kehendak Hizbut Tahrir. Ia menambahkan bahwa revolusi Arab yang terus berlanjut ini didorong oleh kegagalan dan ketidakadilan sosial, melebihi dorongan ideologis. Sehingga tidak banyak yang mengatakan bahwa revolusi ini akan membantu penyebaran agenda Islam.
Sementara Hizbut Tahrir melihat dalam revolusi ini dan menganggapnya sebagai perkembangan yang menjanjikan dalam upaya melawan para rezim yang didukung Barat seperti Presiden Mubarak; dan melawan para anti-Islam seperti Gaddafi yang telah menzalimi kaum Muslim dalam waktu yang lama. Bahkan Hizbut Tahrir merasa bahwa runtuhnya rezim-rezim ini sama dengan terbukanya berbagai peluang baru baginya untuk mendiskusikan ide Khilafah dengan cara yang lebih terbuka.
Dan dalam hal ini sangat jelas dan dapat dimengerti dengan terori yang sederhana, karena ketidakpuasan yang menyulut revolusi ini disebabkan oleh kebijakan neo-liberal. Sehingga konsekwensinya bahwa konsep “westernisasi” dan “modernisasi” dipandangnya sebagai bagian dari masalah, bukan solusi.
Bruno mengatakan bahwa konsep Negara Khilafah Islam yang terkait erat dengan perjuangan Hizbut Tahrir, tidak tampak bahwa Negara Khilafah Islam menolak pencapaian teknologi modern, melainkan ingin menempatkan pencapaian teknologi modern ini dalam pelayanan, yang oleh Hizbut Tahrir dilihatnya sebagai pembebasan dari Barat, dan kemajuan di dunia Islam.
Bahkan Hizbut Tahrir berusaha untuk mengkristalkan kerangka ideologis global dan menciptakan kesadaran melalui penggunaan media modern dan teknologi komunikasi, di samping jaringan imigrasi, serta filsafat politik kontemporer.
Bruno menambahkan bahwa ketika memperhatikan pemahaman Hizbut Tahrir terhadap Islam dan penjelasan atas pandangannya terhadap sistem sosial alternatif, maka Anda akan menemukan bahwa Hizbut Tahrir melakukannya melalui analisis praktis terhadap berbagai peristiwa yang terjadi.
Ia melontarkan sebuah catatan, bahwa ada seorang penulis karena tidak membedakan antara peradaban (hadhârah) dan budaya (madaniyah), maka ia mengatakan bahwa Hizbut Tahrir itu anti dan melawan modernisasi. Padahal faktanya Hizbut Tahrir itu modern sekali, Hizbut Tahrir menggunakan internet dan berbagai jaringan media komunikasi sosial, sehingga ini bukti bahwa Hizbut Tahrir itu anti dan melawan modernisasi sangat jauh dari kebenaran.
Bruno mengatakan bahwa konsep Khilafah yang diperjuangkan Hizbut Tahrir berbeda dari apa yang saya pikir. Hizbut Tahrir memiliki pemahaman yang istimewa tentang perlunya integrasi ekonomi yang riil dalam dunia Islam. Sementara keberadaan Liga Arab, Dewan Kerjasama Negara Teluk (GCC), dan Organisasi Kerjasama Ekonomi tidak mampu menghasilkan perubahan nyata, karena mereka semua korup, dikendalikan oleh pemerintah dan rezim yang memusuhi Islam, serta rezim-rezim ini tunduk pada agenda negara-negara besar. Sehingga adanya semua ini dinilai sebagai problem dan masalah utama di dunia Islam. Bahkan Hizbut Tahrir menyerukan untuk menghapus perbatasan antara negara-negara dan masyarakat.
Sekali lagi, Bruno menegaskan bahwa perjuangan Hizbut Tahrir bukan sesuatu yang naif, karena kebutuhan pada rasa persatuan dan adanya tujuan bersama di dunia Islam merupakan perkara yang diperlukan. Dan sebagai gerakan, Hizbut Tahrir tidak memiliki wilayah tertentu. Hizbut Tahrir mempromosikan dirinya dengan berbagai kegiatan. Hizbut Tahrir beraktivitas untuk menyatukan identitas, sentralitas tujuan dan integrasi antar daerah dalam aktivitas.
Ia menambahkan, namun dari sisi lain dan dari sudut pandang saya bahwa Hizbut Tahrir tidak tampak melakukan aktivitas gerakan massa, dan tidak tampak berusaha untuk mendirikan Khilafah dari nol, atau tidak ada sama sekali. Hizbut Tahrir sebagai sebuah gerakan ingin memobilisasi dan menyebarkan ide-idenya di antara kelompok-kelompok sosial masyarakat dan lembaga. Bahkan Hizbut Tahrir dengan tegas menargetkan elemen-elemen masyarakat yang mempunyai pengaruh nyata, dan kekuatan yang berpengaruh serta diperlukan untuk menciptakan perubahan, seperti angkatan bersenjata, badan-badan intelijen dan para profesional.
Bruno menutup artikelnya dengan mengatakan bahwa Hizbut Tahrir telah menyoroti tidak adanya Negara Khilafah menjadi referensi dan sesuatu yang memiliki kredibel. Negara Khilafah sebagaimana sebelumnya akan berdiri untuk melindungi dunia Islam. Sementara Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang dalam pandangan banyak orang di dunia Islam memiliki kemampuan untuk melindungi dunia Islam, ternyata tidak memainkan peran apapun.
Begitu juga ketika seorang pemimpin seperti Saddam Hussein dan Gaddafi mencoba memainkan “nada musik” Islam melalui rezim sekulernya untuk memobolisasi massa, maka lihat mereka sekarang bahwa mereka hanyalah orang-orang oportunis. Oleh karena itu, apa yang kita lihat dalam Hizbut Tahrir dan konsep Negara Khilafah Islam yang diperjuangkannya, maka saya yakin bahwa Hizbut Tahrir mencerminkan sebuah lembaga dan sistem alternatif untuk sistem globalisasi.[]
Sumber: pal-tahrir.info, 27/3/2011.
Bruno De Cordier works for the Conflict Research Group and for the Department of Conflict and Development Studies of Ghent University. His research interests include humanitarian aid and policy, the social impact of globalization, religion and, geographically, Eurasia (the former USSR), Pakistan and India. Before joining the university, he worked as a field officer and in humanitarian coordination for the UN. In that capacity, he lived, worked and traveled for more than six years in his region of interest and returns regularly, convinced that an actively interested traveler observes best what actually happens on the grounds. Bruno De Cordier also worked and lived for one and a half year in Bangladesh, and did a series of short- and long-term observation and monitoring in Eurasia, Pakistan and the Balkans. He publishes regularly in specialized journals and readers, and has authored several monographs.
Situs “New Eurasia” mempublikasikan sebuah artikel yang ditulis oleh seorang cendekiawan bernama Bruno De Cordier dari the University of Ghent di Belgia pada tanggal 16/3/2011 dengan judul: “Explaining the Persistence of Hizb Ut-Tahrir, Menjelaskan Kegigihan Hizbut Tahrir”.
Bruno memulai artikelnya dengan sebuah catatan hasil pengamatannya terhadap Hizbut Tahrir, di mana ia mengatakan bahwa Hizbut Tahrir sebagai kelompok fundamentalis yang mungkin paling banyak dilarang secara resmi di kawasan Asia Tengah dan di tempat-tempat lain. Namun, meskipun Hizbut Tahrir mendapatkan tekanan dan bahkan tindakan repsesif di setiap tempat, Hizbut Tahrir masih aktif melakukan berbagai aktivitas dan kegiatan besar.
Dalam hal ini, Bruno sangat yakin bahwa rahasia kegigihan Hizbut Tahrir dalam beraktivitas ada pada akidah (ideologi) yang diyakininya. Hizbut Tahrir berusaha menciptakan kemarahan yang sesungguhnya, serta kemauan yang tinggi pada diri umat. Jelasnya, Hizbut Tahrir mencerminkan sebuah lembaga dan sistem alternatif untuk sistem globalisasi.
Ketika menggambarkan tentang Hizbut Tahrir, Bruno mengatakan bahwa Hizbut Tahrir merupakan gerakan yang sudah sering dibicarakan. Namun untuk memberitakan serta membicarakan tentang Hizbut Tahrir dan Khilafah yang akan didirikannya masih banyak pihak yang malu dan kurang terbuka. Ia menambahkan bahwa ada kesulitan dalam menentukan jumlah yang tepat dan akurat terkait anggota Hizbut Tahrir di dunia, atau sejauh mana penyebarannya di negeri-negeri Islam, khususnya di negara-negara seperti Uzbekistan, hingga saat ini di Libya. Hanya saja ia mengakui bahwa ada penerimaan yang luar biasa terhadap ide-ide Hizbut Tahrir. Bahkan Hizbut Tahrir mampu dan tetap teguh meskipun berulang kali menghadapi berbagai tekanan dan penindasan.
Bruno kembali mengatakan tentang alasan hingga sikap Hizbut Tahrir yang berusaha menciptakan kemarahan yang sesungguhnya, serta kemauan yang tinggi pada diri umat, bahwa apa yang dilakukan Hizbut Tahrir ini tidak lain adalah jawaban-jawaban yang sesungguhnya atas berbagai masalah ekonomi, politik dan sosial yang ada di dunia. Bahkan ia menilai solusi yang ditawarkan Hizbut Tahrir ini sebagai solusi terbaik dari solusi terbaik yang ditawarkan oleh organisasi hak asasi manusia sekuler.
Dalam hal ini, Bruno mengapresiasi buku “The Emerging World Order and The Islamic Khilafah State, Munculnya Tatanan Dunia dan Negara Khilafah Islam” yang ditulis oleh salah seorang aktivis Hizbut Tahrir di situs “khilafah.com”. Di mana, ia mengatakan bahwa buku tersebut dalam setiap bahasannya selalu diperkuat dengan kutipan ayat-ayat dari al-Qur’an dan al-Hadits, serta ucapan para filsuf Barat, di samping berbagai data statistik.
Penulis buku itu fokus pada pembentukan geostrategis untuk daerah geografis kaum Muslim dan pembagiannya; bahwa sumber daya alam, berbagai potensi ekonomi, industri, kekuatan militer, faktor penduduk (demografis) dan ideologi akan membentuk kekuatan besar dalam “new world order, tatanan dunia baru”. Di mana sesuai pemahaman Hizbut Tahrir bahwa kekuatan besar itulah yang akan menghentikan dan mengakhiri hegemoni Barat yang sudah lama merusak negeri-negeri kaum Muslim.
Sementara kendala utama yang mencegah penggunaan potensi-potensi tersebut, sebagaimana yang terdapat dalam buku tersebut adalah terpecahnya kaum Muslim hingga menjadi 56 negara kecil. Dan kondisi inilah yang menyebabkan keberadaan penjajahan, pendudukan, perpecahan, dan impor ide-ide sekuler seperti nasionalisme, sosialisme dan kebebasan. Sedangkan para penguasa di negara-negara ini adalah para penjahat, karena mereka hanya melaksanakan kebijakan untuk melayani kepentingan Barat saja.
Kemudian Bruno mengatakan bahwa Khalifah dalam pandangan Hizbut Tahrir harus dipilih rakyat; Khalifah adalah pemimpin di dunia yang akan menerapkan Islam; Khalifah adalah manusia biasa yang bisa saja berbuat salah; dan Khalifah dalam pemahaman Hizbut Tahrir yang berbeda dengan pemahaman banyak orang adalah bahwa Khalifah itu bukan Imam Mahdi.
Selanjutnya, Bruno mengakui bahwa berdirinya institusi besar yang membentang dari Rabat hingga Mindanao-kota terbesar di Filipina-ini merupakan sesuatu yang realistis. Justru ia mempertanyakan dan menolak klaim sebagian orang yang mengatakan bahwa “ideologi Hizbut Tahrir ini terpisah dari realitas”.
Dalam diagnosisnya terkait apa yang terjadi di negara-negara Arab, ia mengatakan tentang adanya kegagalan yang mendalam dari rezim-rezim yang berpengaruh besar dalam dunia Islam, di mana hal ini berbeda dengan kehendak Hizbut Tahrir. Ia menambahkan bahwa revolusi Arab yang terus berlanjut ini didorong oleh kegagalan dan ketidakadilan sosial, melebihi dorongan ideologis. Sehingga tidak banyak yang mengatakan bahwa revolusi ini akan membantu penyebaran agenda Islam.
Sementara Hizbut Tahrir melihat dalam revolusi ini dan menganggapnya sebagai perkembangan yang menjanjikan dalam upaya melawan para rezim yang didukung Barat seperti Presiden Mubarak; dan melawan para anti-Islam seperti Gaddafi yang telah menzalimi kaum Muslim dalam waktu yang lama. Bahkan Hizbut Tahrir merasa bahwa runtuhnya rezim-rezim ini sama dengan terbukanya berbagai peluang baru baginya untuk mendiskusikan ide Khilafah dengan cara yang lebih terbuka.
Dan dalam hal ini sangat jelas dan dapat dimengerti dengan terori yang sederhana, karena ketidakpuasan yang menyulut revolusi ini disebabkan oleh kebijakan neo-liberal. Sehingga konsekwensinya bahwa konsep “westernisasi” dan “modernisasi” dipandangnya sebagai bagian dari masalah, bukan solusi.
Bruno mengatakan bahwa konsep Negara Khilafah Islam yang terkait erat dengan perjuangan Hizbut Tahrir, tidak tampak bahwa Negara Khilafah Islam menolak pencapaian teknologi modern, melainkan ingin menempatkan pencapaian teknologi modern ini dalam pelayanan, yang oleh Hizbut Tahrir dilihatnya sebagai pembebasan dari Barat, dan kemajuan di dunia Islam.
Bahkan Hizbut Tahrir berusaha untuk mengkristalkan kerangka ideologis global dan menciptakan kesadaran melalui penggunaan media modern dan teknologi komunikasi, di samping jaringan imigrasi, serta filsafat politik kontemporer.
Bruno menambahkan bahwa ketika memperhatikan pemahaman Hizbut Tahrir terhadap Islam dan penjelasan atas pandangannya terhadap sistem sosial alternatif, maka Anda akan menemukan bahwa Hizbut Tahrir melakukannya melalui analisis praktis terhadap berbagai peristiwa yang terjadi.
Ia melontarkan sebuah catatan, bahwa ada seorang penulis karena tidak membedakan antara peradaban (hadhârah) dan budaya (madaniyah), maka ia mengatakan bahwa Hizbut Tahrir itu anti dan melawan modernisasi. Padahal faktanya Hizbut Tahrir itu modern sekali, Hizbut Tahrir menggunakan internet dan berbagai jaringan media komunikasi sosial, sehingga ini bukti bahwa Hizbut Tahrir itu anti dan melawan modernisasi sangat jauh dari kebenaran.
Bruno mengatakan bahwa konsep Khilafah yang diperjuangkan Hizbut Tahrir berbeda dari apa yang saya pikir. Hizbut Tahrir memiliki pemahaman yang istimewa tentang perlunya integrasi ekonomi yang riil dalam dunia Islam. Sementara keberadaan Liga Arab, Dewan Kerjasama Negara Teluk (GCC), dan Organisasi Kerjasama Ekonomi tidak mampu menghasilkan perubahan nyata, karena mereka semua korup, dikendalikan oleh pemerintah dan rezim yang memusuhi Islam, serta rezim-rezim ini tunduk pada agenda negara-negara besar. Sehingga adanya semua ini dinilai sebagai problem dan masalah utama di dunia Islam. Bahkan Hizbut Tahrir menyerukan untuk menghapus perbatasan antara negara-negara dan masyarakat.
Sekali lagi, Bruno menegaskan bahwa perjuangan Hizbut Tahrir bukan sesuatu yang naif, karena kebutuhan pada rasa persatuan dan adanya tujuan bersama di dunia Islam merupakan perkara yang diperlukan. Dan sebagai gerakan, Hizbut Tahrir tidak memiliki wilayah tertentu. Hizbut Tahrir mempromosikan dirinya dengan berbagai kegiatan. Hizbut Tahrir beraktivitas untuk menyatukan identitas, sentralitas tujuan dan integrasi antar daerah dalam aktivitas.
Ia menambahkan, namun dari sisi lain dan dari sudut pandang saya bahwa Hizbut Tahrir tidak tampak melakukan aktivitas gerakan massa, dan tidak tampak berusaha untuk mendirikan Khilafah dari nol, atau tidak ada sama sekali. Hizbut Tahrir sebagai sebuah gerakan ingin memobilisasi dan menyebarkan ide-idenya di antara kelompok-kelompok sosial masyarakat dan lembaga. Bahkan Hizbut Tahrir dengan tegas menargetkan elemen-elemen masyarakat yang mempunyai pengaruh nyata, dan kekuatan yang berpengaruh serta diperlukan untuk menciptakan perubahan, seperti angkatan bersenjata, badan-badan intelijen dan para profesional.
Bruno menutup artikelnya dengan mengatakan bahwa Hizbut Tahrir telah menyoroti tidak adanya Negara Khilafah menjadi referensi dan sesuatu yang memiliki kredibel. Negara Khilafah sebagaimana sebelumnya akan berdiri untuk melindungi dunia Islam. Sementara Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang dalam pandangan banyak orang di dunia Islam memiliki kemampuan untuk melindungi dunia Islam, ternyata tidak memainkan peran apapun.
Begitu juga ketika seorang pemimpin seperti Saddam Hussein dan Gaddafi mencoba memainkan “nada musik” Islam melalui rezim sekulernya untuk memobolisasi massa, maka lihat mereka sekarang bahwa mereka hanyalah orang-orang oportunis. Oleh karena itu, apa yang kita lihat dalam Hizbut Tahrir dan konsep Negara Khilafah Islam yang diperjuangkannya, maka saya yakin bahwa Hizbut Tahrir mencerminkan sebuah lembaga dan sistem alternatif untuk sistem globalisasi.[]
Sumber: pal-tahrir.info, 27/3/2011.
Bruno De Cordier works for the Conflict Research Group and for the Department of Conflict and Development Studies of Ghent University. His research interests include humanitarian aid and policy, the social impact of globalization, religion and, geographically, Eurasia (the former USSR), Pakistan and India. Before joining the university, he worked as a field officer and in humanitarian coordination for the UN. In that capacity, he lived, worked and traveled for more than six years in his region of interest and returns regularly, convinced that an actively interested traveler observes best what actually happens on the grounds. Bruno De Cordier also worked and lived for one and a half year in Bangladesh, and did a series of short- and long-term observation and monitoring in Eurasia, Pakistan and the Balkans. He publishes regularly in specialized journals and readers, and has authored several monographs.
Selama sistem Demokrasi, Kapitalisme beserta sistem turunannya masih bertahan,
selama itu pula rezim2 bobrok dan diktator menjadi Pilihan,,
Maka suatu pandangan yang salah
ketika dikatakan kita hanya menunggu orang yang amanah
bahwa kita bisa berubah
malah ini akan semakin memperparah..
Sistem Demokrasi-Liberalisme adalah 'Pabrik' pencetak generasi yang rusak
Dengan sistem Pendidikan yang berasal dari kaum kuffar barat, mereka mendoktrin tsaqofah yang merusak pada anak2
Belum lagi sistem pergaulan dan sistem ekonomi bobrok yang semakin melabrak..
Ibarat sebuah pabrik, ia akan terus memproduksi robot yang bertujuan melindungi sistem yang ada. Pada saat yang sama orang tua dan para asatidz berusaha membentengi pemikiran generasi yang telah rusak. namun, semuanya belum mengalami perubahan yang signifikan. Apalagi "produksi" lebih deras mengalir ketimbang pembentengan akidah..
Saatnya kita melangkah demi menyelamatkan generasi ke arah yang lebih baik dengan Syariah dan Khilafah..
#RefleksiPendidikan
selama itu pula rezim2 bobrok dan diktator menjadi Pilihan,,
Maka suatu pandangan yang salah
ketika dikatakan kita hanya menunggu orang yang amanah
bahwa kita bisa berubah
malah ini akan semakin memperparah..
Sistem Demokrasi-Liberalisme adalah 'Pabrik' pencetak generasi yang rusak
Dengan sistem Pendidikan yang berasal dari kaum kuffar barat, mereka mendoktrin tsaqofah yang merusak pada anak2
Belum lagi sistem pergaulan dan sistem ekonomi bobrok yang semakin melabrak..
Ibarat sebuah pabrik, ia akan terus memproduksi robot yang bertujuan melindungi sistem yang ada. Pada saat yang sama orang tua dan para asatidz berusaha membentengi pemikiran generasi yang telah rusak. namun, semuanya belum mengalami perubahan yang signifikan. Apalagi "produksi" lebih deras mengalir ketimbang pembentengan akidah..
Saatnya kita melangkah demi menyelamatkan generasi ke arah yang lebih baik dengan Syariah dan Khilafah..
#RefleksiPendidikan
Syekh Taqiyuddin an Nabhani: Hak dan Kewajiban Rakyat Untuk Mengkoreksi Penguasa
"Mengkoreksi Penguasa dari sisi kaum muslimin merupakan salah satu hak umat Islam dan kewajiban kifayah (fardhu kifayah) atas kaum muslimin. Sementara bagi non muslim yang menjadi warga negara daulah Islam memiliki hak untuk menyampaikan syakwa (aduan) karena kedzoliman penguasa atas mereka atau penyimpangan penerapan hukum Islam atas mereka."
"Mengkoreksi Penguasa dari sisi kaum muslimin merupakan salah satu hak umat Islam dan kewajiban kifayah (fardhu kifayah) atas kaum muslimin. Sementara bagi non muslim yang menjadi warga negara daulah Islam memiliki hak untuk menyampaikan syakwa (aduan) karena kedzoliman penguasa atas mereka atau penyimpangan penerapan hukum Islam atas mereka."
Homoseksual, naluri??
Kemarin mengisi kajian dengan kawan yang baru lulus SMA, tiba2 bertanya: "kan dari awal, sudah dibahas bahwa naluri yang ada pada manusia salahsatunya adalah naluri mencintai seseorang, nah apakah kasus seperti yang belakangan ini terjadi termasuk dalam naluri itu?? Meski yang dicintainya sesama jenis?? Apa yang menyebabkan hingga hal ini seperti wabah yang menimpa hampir seluruh dunia??
Spontan awalnya bingung menjawabnya mengenai naluri..
Jawaban:
para medis menjelaskan mengenai kasus (Emon) belakangan ini dengan sindrom "Pedofilia". Sebagaimana yg dijelaskan bahwa manusia mempunyai naluri melestarikan keturunan (gharizah an-nau') yang mana didalamnya termasuk mencintai seseorang. Mengenai homoseksual, tentu menyalahi fitrahnya sebagai manusia sebab ia jelas bertolak belakang dengan naluri Melestarikan keturunan, sedangkan homoseksual justru berbeda.
Kemudian, apa yang menyebabkan hal ini terus terjadi??
Lagi2, kita harus menganalisanya secara sistemik. Sistem pendidikan, sistem sosial, sistem ekonomi yang mana kesemuanya berperan aktif dalam melestarikan wabah ini. Beberapa negara termasuk Amerika, bahkan Indonesia ada yang mengatakan juga akan melegalisasi suatu UU tentang gay dan lesbian. Melihat sistem sosial, pergaulan yang bebas dan tak terkontrol , begitupun dengan angka perceraian suami-istri disebabkan sulitnya mengurusi keluarga karena faktor ekonomi yang menjadi salah satu faktor berkembangnya wabah mematikan ini. Sekulerisme-Liberalisme adalah faktor utama melanggengkan budaya gay-lesbian. Meski ada pidana penjara dalam kasus Emon namun kasusnya hanya disama dengan kasus pencabulan dan pemerkosaan. Intinya bahwa ini bukanlah sindrom semata, tapi sebuah hasil dari diterapkannya sistem busuk Demokrasi beserta turunannya, yang mana ia adalah pemelihara budaya perusak yang siap menghancurkan setiap anak negeri.. Maka tak ada solusi lain selain kembali pada Syariah Islam dalam bingkai Khilafah yang dengannya akan menyelamatkan generasi muslim dan dunia pada umumnya.. Dalam Islam, pelaku homo dan lesbian dikenakan hukuman mati..
#Buang_Demokrasi
Kemarin mengisi kajian dengan kawan yang baru lulus SMA, tiba2 bertanya: "kan dari awal, sudah dibahas bahwa naluri yang ada pada manusia salahsatunya adalah naluri mencintai seseorang, nah apakah kasus seperti yang belakangan ini terjadi termasuk dalam naluri itu?? Meski yang dicintainya sesama jenis?? Apa yang menyebabkan hingga hal ini seperti wabah yang menimpa hampir seluruh dunia??
Spontan awalnya bingung menjawabnya mengenai naluri..
Jawaban:
para medis menjelaskan mengenai kasus (Emon) belakangan ini dengan sindrom "Pedofilia". Sebagaimana yg dijelaskan bahwa manusia mempunyai naluri melestarikan keturunan (gharizah an-nau') yang mana didalamnya termasuk mencintai seseorang. Mengenai homoseksual, tentu menyalahi fitrahnya sebagai manusia sebab ia jelas bertolak belakang dengan naluri Melestarikan keturunan, sedangkan homoseksual justru berbeda.
Kemudian, apa yang menyebabkan hal ini terus terjadi??
Lagi2, kita harus menganalisanya secara sistemik. Sistem pendidikan, sistem sosial, sistem ekonomi yang mana kesemuanya berperan aktif dalam melestarikan wabah ini. Beberapa negara termasuk Amerika, bahkan Indonesia ada yang mengatakan juga akan melegalisasi suatu UU tentang gay dan lesbian. Melihat sistem sosial, pergaulan yang bebas dan tak terkontrol , begitupun dengan angka perceraian suami-istri disebabkan sulitnya mengurusi keluarga karena faktor ekonomi yang menjadi salah satu faktor berkembangnya wabah mematikan ini. Sekulerisme-Liberalisme adalah faktor utama melanggengkan budaya gay-lesbian. Meski ada pidana penjara dalam kasus Emon namun kasusnya hanya disama dengan kasus pencabulan dan pemerkosaan. Intinya bahwa ini bukanlah sindrom semata, tapi sebuah hasil dari diterapkannya sistem busuk Demokrasi beserta turunannya, yang mana ia adalah pemelihara budaya perusak yang siap menghancurkan setiap anak negeri.. Maka tak ada solusi lain selain kembali pada Syariah Islam dalam bingkai Khilafah yang dengannya akan menyelamatkan generasi muslim dan dunia pada umumnya.. Dalam Islam, pelaku homo dan lesbian dikenakan hukuman mati..
#Buang_Demokrasi
Subscribe to:
Posts (Atom)
